TransLator
Category
- AkhLak (5)
- iLmu (9)
- Inspirasi Mujha (8)
- MusLimah (3)
- Puisi (8)
- Renungan (8)
- Sunnah Nabi (3)
Link's WI
Situs menarik
TinggaLkan pesan Anda,,,^^
HIKMAH SOLAT DIAWAL WAKTU MENURUT SAINS
Posted by
Ummu Najihah
at
7:58 PM
0
comments
Labels: iLmu
Kisah Mahar Paling Mulia
Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.
Siapakah Ummu Sulaim ?
Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.
Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???
Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu wahai saudariku, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, diantaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)
Demikianlah saudariku muslimah…
Semoga kisah ini menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan kita dan menjadi jalan untuk meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Selain itu, semoga kisah ini menjadi salah satu motivator kita untuk lebih konsisten dengan keislaman kita. Wallahu Waliyyuttaufiq.
Maraji:
Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z” (Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq),
Wanita-wanita Teladan Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi)
***
Artikel www.muslimah.or.id
Posted by
Ummu Najihah
at
2:02 AM
0
comments
Labels: MusLimah
Makna Cinta Karena Allah
Di antara karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang mukmin adalah dipersaudarakannya sesama mereka. Dari persaudaraan itu, diharapkan tumbuh rasa saling mencintai, yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, salah satu karakter dasar seorang mukmin.
Cinta karena Allah adalah kita mencintai seseorang karena dia mencintai Allah, karenanya semakin bertambah ketaatan dia kepada Allah maka bertambah pula kecintaan kita kepadanya. Kecintaan seperti ini termasuk dari amalan yang paling utama, dan dia merupakan konsokuensi dari kecintaan kepada Allah. Karena di antara bentuk kesempurnaan cinta kepada Allah adalah mencintai siapa saja yang Allah cintai dan mencintai siapa saja yang mencintai Allah. Sementara kaum muslimin secara umum merupakan kaum yang mencintai Allah dan Allah juga mencintai mereka, karenanya seorang muslim wajib mencintai kaum muslimin yang lain sebagai keharusan dari cinta dia kepada Allah. Dari Anas radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Keutamaan Mencintai Karena Allah
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang Allah akan naungi pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu dia menolak seraya berkata, “Aku takut kepada Allah,” (6) seorang yang bersedekah dengan diam-diam sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya, (7) dan seseorang yang berzikir/mengingat Allah dalam keadaan sendirian hingga dia menangis.” (HR. Al-Bukhari no. 600 dan Muslim no. 1031)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman pada hari kiamat kelak, “Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dalam naungan-Ku, di mana tidak ada naungan pada hari ini selain naungan-Ku.” (HR. Muslim no. 1031)
Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ
“Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wajiblah cinta-Ku bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling bermajelis karena Aku, orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku, dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Malik: 2/818 dan Ahmad no. 21021)
Dan juga Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan dalam hadits An-Nu’man bin Bisyir dia berkata:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Permisalan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang merintih kesakitan, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakannya dengan cara terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (demam).” (HR. Muslim)
Kecintaan karena Allah ini adalah kecintaan yang murni karena Allah, kecintaan yang tidak didasari oleh maksud-maksud duniawiah. Karenanya Allah Ta’ala membalas orang-orang yang saling mencintai karena Allah dengan memberikan kepada mereka naungan dari teriknya matahari di padang mahsyar kelak di hari kiamat. Dan manusia yang paling pertama masuk ke dalam keutamaan ini (tentunya setelah para nabi) adalah para sahabat Al-Anshar. Karena Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang keadaan mereka dalam firmanNya
Artinya, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Setelah hal ini kita pahami, maka di sini ada point penting yang harus diperhatikan. Yaitu bahwa mengutamakan saudara dalam kebaikan tidaklah menafikan atau bertolak belakang dengan perintah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148) Karenanya pada setiap kebaikan yang kita lebih berhak dan lebih pantas mengerjakannya daripada saudara kita, maka di sini tentu saja kita tidak akan membiarkan siapapun untuk mendahului kita dalam mengerjakan kebaikan tersebut, dan mendahulukan saudara daripada diri sendiri dalam kasus ini tidak berlaku.
Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian! (HR. Muslim).
Yang menjadi dalil pada hadits ini adalah sabda Rasulullah saw., “Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai”. Hadits ini menunjukkan tentang besarnya pahala saling mencintai karena Allah.
Juga hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah saw. bersabda:
Siapa pun tidak akan merasakan manisnya iman, hingga ia mencintai seseorang hanya karena Allah semata.(HR. Bukhari).
Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, bagaiman jika ada seseorang yang mencintai suatu kaum tapi tidak mampu beramal seperti mereka? Rasulullah saw. bersabda, “Engkau wahai Abu Dzar, akan bersama siapa saja yang engkau cintai.” Abu Dzar berkata; maka aku berkata, “Sungguh, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Abu Dzar mengulanginya satu atau dua kali”. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban)
Hadits Muadz bin Anas Al-Jahni bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya. (HR. AL Hakim).
Wujud Cinta karena Allah
Disunahkan orang yang mencintai saudaranya karena Allah dengan perwujudan sebagai berikut:
1. untuk mengabari dan memberitahukan cintanya kepadanya. Nabi saw. bersabda:
Jika seseorang mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah bahwa ia mencintainya. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
2. mendoakan dan meminta doa dari saudaranya . Nabi saw. bersabda:
Barang siapa yang mendoakan saudaranya pada saat ia tidak bersamanya, maka malaikat yang diserahi untuk menjaga dan mengawasinya berkata, “Semoga Allah mengabulkan; dan bagimu semoga mendapat yang sepadan.” (HR. Muslim).
Umar bin Khatab berkata: Aku meminta izin kepada Nabi saw. untuk umrah, kemudian beliau memberikan izin kepadaku dan bersabda: “Wahai saudaraku, engkau jangan melupakan kami dalam doamu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
3. mengunjungi orang yang dicintai, duduk bersamanya, saling menjalin persaudaraan, dan saling memberi karena Allah, setelah mencintai-Nya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata, “Hendak ke mana engkau?” Orang itu berkata, “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat berkata, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia berkata, “Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu berkata, “Sesunggunya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.” (HR. Muslim)
Ancaman bagi yang memutus silaturrohim (QS.Muhammad:21-23) dan hadits nabi yang lain
4. Senantiasa berusaha membantu kebutuhan saudaranya dan bersungguh-sungguh menghilangkan kesusahannya. Hal ini berdasarkan hadits Mutafaq ‘alaih dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda:
Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa. Barangsiapa berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim maka dengan hal itu Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat.
5. menemui orang yang dicintai dengan menampakan perkara yang disukainya untuk menggembirakannya dan dengan wajah yang berseri-seri. Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab As-Shagir; Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa yang menemui saudaranya yang muslim dengan menampakan perkara yang disukainya karena ingin membahagiakannya, maka Allah akan memberikan kebahagiaan kepadanya di Hari Kiamat.
Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau sekedar bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (HR. Muslim).
6. memberikan dan menerima hadiah saudaranya serta membalasnya. Rasulullah saw bersabda:
Saling berilah hadiah,agar kalian saling mencintai. (HR. Bukhari).
Rasulullah saw. pernah menerima hadiah dan membalasnya. (HR. Bukhari)
Termasuk memberikan balasan hadiah yang setimpal adalah jika seorang muslim mengatakan kepada saudaranya, “Jazakallah Khairan”, artinya semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Tirmidzi meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa diberi kebaikan kemudian ia berkata kepada orang yang memberi kebaikan, “Jazakallah Khairan” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka dia sungguh telah memberikan pujian yang sangat baik.
7. Harus berterima kasih kepada orang yang telah memberikan kebaikan kepadanya. Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak. Barangsiapa yang tidak bisa bersyukur kepada orang, maka ia tidak akan bisa bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah sama dengan bersyukur. Dan tidak membicarakan kenikmatan berarti mengingkari nikmat. Berjamaah adalah rahmat, bercerai berai adalah adzab.
8. Disunahkan membela saudaranya untuk mendapatkan kemanfaatan dari suatu kebaikan atau untuk memberikan kemudahan dari suatu kesulitan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. jika didatangi peminta-minta, maka beliau suka berkata:
Belalah ia maka kalian akan diberikan pahala. Dan Allah akan memutuskan dengan lisan nabi-Nya perkara yang ia kehendaki. (HR. Bukhari).
9. Wajib menerima permintaan maaf dari saudaranya. Diriwayatkan Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa yang mengajukan permintaan maaf kepada saudaranya dengan suatu alasan tapi ia tidak menerimanya, maka ia akan mendapat kesalahan seperti kesalahan pemungut pajak.
10. Wajib menjaga rahasia seorang muslim. Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi dari Jabir, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Jika seseorang berkata kepada orang lain dengan suatu perkataan kemudian ia menoleh (melihat sekelilingnya), maka pembicaraan itu adalah amanah.
11. Wajib memberi nasihat. Imam Muslim telah mentakhrij dari Abu Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Hak muslim atas muslim yang lain ada enam. Dikatakan, “Apa yang enam itu, Ya Rasulallah?” Rasul saw. bersabda, “Apabila engkau bertemu dengan saudara muslim yang lain, maka ucapkan salam kepadanya; Apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya; Apabila ia meminta nasihat kepadamu, maka berikanlah nasihat kepadanya; Apabila ia bersin dan mengucapkan al hamdu lillah, maka ucapkanlah yarhamukallah; Apabila ia sakit maka tengoklah; Apabila ia meninggal dunia, maka hantarkanlah sampai ke kuburnya.”
Khatimah
Semoga dengan melaksanakan petunjuk Rasulullah saw. dalam mencintai seorang hamba karena-Nya, kita dicintai Allah SWT sebagaimana hadits dari Umar bin Al-Khathab, bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan nabi dan bukan syuhada, tapi para nabi dan syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi Allah. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, siapa mereka dan bagaimana amal mereka? Semoga saja kami bisa mencintai mereka.” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia dari Allah. Mereka tidak memiliki hubungan nasab dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama. Demi Allah keberadaan mereka adalah cahaya dan mereka kelak akan ada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut. Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah saw. membacakan firman Allah:
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (TQS. Yunus [10]: 62).
Selamat menikmati Manisnya Iman dengan saling Mencintai karena Allah….
Posted by
Ummu Najihah
at
11:20 PM
0
comments
Labels: iLmu
Urgensi Niat
Dari Amirul mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda : ”Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapat pahala di sisi Allah)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama memasukkan hadits niat ini di awal pembahasan kitab – kitab mereka. Hal ini dilakukan tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Bahkan hadits ini masuk dalam 70 bab masalah fiqh. Imam Syafi'i rahimahullahu mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga dari ilmu. Dan Imam Abu Dawud rahimahullahu bahkan mengatakan bahwa ia adalah separuh dari agama. Abdullah Bin Mubarak berkata : “Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya, dan berapa banyak amalan yang remeh menjadi besar karena niatnya”.
Jika demikian halnya, keberadaan niat begitu berarti bagi sebuah amalan. Maka, niat menjadi hal pokok yang multifungsi. Di antara fungsi – fungsi tersebut adalah :
a. Menyempurnakan dan Mengesahkan.
Tanpa niat yang jelas, sebuah amal tidaklah sempurna, tidak bernilai di sisi Allah. Menurut jumhur ulama, “innamal a'malu binniat” maksudnya adalah “innamaa sihhatul a'maal” : syarat sahnya sebuah amalan. Dan sebagian ulama menegaskan “innamal a'malu binniat” maksudnya sebagai “innamaa kamalul a'maal” : sesungguhnya kesempurnaan amal dengan niat. Jadi, niat menjadi rukun sebuah ibadah, tidak ada ibadah tanpa niat.
b. Mengubah dan Menjadikan.
Niat yang buruk bisa mengubah suatu amal yang baik menjadi buruk. Misalnya, shadaqah adalah sebuah amal yang baik, tapi bila dilakukan untuk pamrih tertentu seperti jabatan, sanjungan, kedudukan, popularitas, maka gugurlah nilainya. Tetapi kaidah ini tidaklah berlaku sebaliknya. Sebuah amal yang buruk tidak bisa berubah menjadi amal yang baik hanya karena niat baik pelakunya. Seorang durhaka, tak bisa menjadikan kedurhakaannya sebagai amal shalih, karena ia meniatkannya untuk sebuah kebaikan. Korupsi, mencuri, merampok, riba, dan maksiat lainnya tidaklah menjadi benar dengan niat dan tujuan ibadah. “Bismillah, nawaitu korupsi lillahi ta'ala..”, ini jelas adalah sebuah kedunguan yang nyata.
Hal ini karena kaidah ushul mengatakan : “al ghayah laa tubarriru al washilah” ; tujuan yang baik tidak menghalalkan segala cara. Jadi, niat dan tujuan yang baik haruslah dilakukan dengan cara yang baik pula. Bukankah Rasul kita yang mulia shallalhu 'alaihi wasaalam pernah bersabda : “Sesungguhnya allah mewajibkan kebaikan atas segala sesuatu” (HR. Muslim) ?.
Begitu pula, niat yang buruk bisa menjadikan suatu yang halal menjadi haram, yang mubah pun menjadi haram. Ketika seorang mengkonsumsi makanan yang halal dan proses memakannya pun merupakan perkara yang mubah, dapat berubah menjadi haram jika ia maksudkan sebagai “nutrisi” menguatkan tulang dan sendinya untuk bermaksiat, yang jika tanpa makan dan minum ia tak mampu menjalankan “aksinya”.
c. Menguatkan.
Dengan niat, amal menjadi kuat, komitmen menjadi kokoh, motivasi menjadi dahsyat, badan yang lemas menjadi kuat. Itulah niat yang kuat, berubah menjadi sebuah 'azam yang bulat, sebagaimana firman Allah Ta'ala, artinya : “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah” (QS. Ali Imran : 159).
Seorang dilanda lapar dan dahaga yang amat saat berpuasa. Jika bukan karena niat puasa, mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah Maha Pemberi Perhitungan, jiwanya akan gelisah mencari jalan untuk segera memenuhi “keroncongan” perutnya. Tapi karena ia telah memasang niat bulat berpuasa saat sahur bahkan ketika malamnya, maka ia kuat menjalaninya. Bukan hanya itu, berbekal niat yang bulat, iapun mampu untuk kuat saat menjalankan ketataan, sabar dalam menjauhi maksiat dan hal – hal yang dapat merusak puasanya padahal sebagiannya halal baginya, tegar menghadapi godaan, dan seterusnya.
Maka, mari kita perbaharui niat dalam setiap amalan. Sampai pada setiap derap langkah agar amalan dapat langgeng dan tuntas karena kuatnya jiwa menjalaninya.
d. Membedakan.
Niat itu pula yang dapat membedakan antara ibadah dan adat, antara ibadah dan aktivitas yang nilainya tak lebih dari sekesar rutinitas belaka. Dengan niat, dua jenis amal yang nampaknya sama menjadi beda, kualitasnya apalagi nilainya di sisi Allah Subhaanahu Wata'ala. Adat, kebiasaan dan rutinitas menjadi sesuatu yang bebarti ketika hal itu diniatkan untuk ibadah. Seseorang yang memasuki masjid dengan mendahulukan kaki kanan, sekali waktu dengan kaki kirinya, karena kebiasaan dan rutinitias maka tidak bernilai apa- apa. Tapi ketika ia masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanannya, dengan kesadaran dan niat untuk menigkuti sunnah Rasulullah shallalhu 'alaihi wasallam maka saat itu pula aktivitasnya berubah menjadi sebuah ibadah yang tinggi nilainya. Seorang shalih , Zubaid Al Yamy berkata : “Sunguh, aku benar – benar suka jika ada niat dalam segala sesuatu, termasuk pula tatkala makan dan minum”. Kata beliau juga : “Berniatlah dalam segala kebaikan yang engkau kehendaki, termasuk tatkala engkau ingin menyapu”.
Itu di dunia. Sampai di akhirat nanti, ketika setiap hamba dibangkitkan oleh Allah Sang Kuasa, fungsi ini amatlah berperan. Betapa tidak, setiap hamba akan dibangkitkan (baca : dimintai pertanggungan jawab) dalam keadaan yang berbeda – beda, sesuai dengan niat – niat mereka. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam menceritakan kepada Aisyah radhiallahu 'anha, istinya, beliau bersabda : “ Suatu pasukan tentara akan menyerang ka’bah. Ketika tiba di suatu tanah lapang, mereka semua dibenamkan (ke tanah).” Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa mereka dibinasakan semua. Padahal, diantara mereka terdapat kaum awam (yang tidak mengerti persoalan) dan orang-orang yang bukan golongan mereka (mereka ikut karena dipaksa)?” Rasulullah bersabda,”Mereka semua dibinasakan. Kemudian mereka dibangkitkan (pada hari kiamat) sesuai niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
e. Membesarkan.
Niat membuat sesuatu yang sederhana menjadi besar. Ada sebuah fenomena yang menarik. Di Masjid Wihdatul Ummah, Makassar, diadakan ta'lim secara rutin setiap pekan. Majelis ini selalu dipenuhi oleh jama'ah, dari kalangan remaja, dewasa hingga manula, yang begitu antusias dan menyesaki ruangan masjid yang sebenarnya cukup luas. Ada kebiasaan yang mungkin tidak dihiraukan oleh kebanyakan jama'ah. Padahal jika dicermati, kebiasaan seperti ini adalah suatu yang tak biasa, darinya dapat terungkap sebuah kebesaran jiwa dan tujuan. Apa itu? Parkir gratis. Ya, penyediaan jasa parkir motor setiap jama'ah, tanpa dipungut biaya sebagai balas jasa. Sebuah hal yang jarang didapati kecuali pada tempat – tempat umum, biasa, dan menjajikan “uang”. Setiap motor disusun dengan rapi, dan yang pasti aman, karena panitia masjid menyiapkan “pasukan khusus” untuk menjaganya. Setiap jama'ah tidak lagi terusik dengan kecemasan akan keamanan motornya, sehingga merasa nyaman dan tenang menyimak mutiara ilmu dari sang ustadz. Fenomena ini jelas hal yang sederhana dan tidak sebesar dan semegah jihad. Tetapi, Insya Allah dengan niat untuk ibadah dari para “pelakunya”, maka iapun menjadi sebuah yang besar. Setidak-tidaknya, motor jama'ah yang tersusun rapi, menggambarkan ukhuwah islamiyah, kekokohan bangunan kaum muslimin sebagai “shaffan ka'annahum bunyanun marshush..”. Begitu pula, motor jama'ah yang tersusun rapi seperti itu, membawa dampak psikologis bagi jam'ah sehingga mereka rajin menghadiri majelis ilmu, khususnya di tempat itu. Dan yang lebih besar lagi, kenampakan seperti ini bisa “menggetarkan” musuh – musuh Allah yang dengannya agama Allah bisa menang di atas agama lainnya, sebagaimana firmanNya, artinya : “ … menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya... ” (QS. Al Anfal : 60).
Jadi, niat yang besar, sungguh menjadikan pemiliknya “besar” di dahapan Allah. Sehingga kita patut untuk mengatakan : “Laa tahkiranna minal ma'rufi syai'an … “ karena “ kullu ma'rufin shadaqah...” : Jangan meremehkan sebuah kebaikan (sekecil apapun itu) karena setiap kebaikan bernilai shadaqah.
f. Melipatgandakan.
Sebenarnya fungsi ini sama dengan fungsi terdahulu yakni membesarkan. Tetapi, fungsi ini perlu untuk di-ta'qid (dikuatkan) kembali. Bagaimana niat bisa melipatgandakan (pahala) amalan? Ya, jelas bisa. Dalam dakwah, seorang melakukan kerja – kerja dakwah yang ia niatkan untuk kemashlahatan umat secara umum, tentu ia merupakan hal yang bisa melipatgandakan pahala di sisi Allah, meskipun yang empunya niat telah meninggal dunia. Bukakankah Rasul kita yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajarkan kita bagaimana cara “membuka rekening royalti” kebaikan yang abadi? Yakni, mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada manusia, sehingga ilmu tersebut diamalkan oleh manusia. Kemudian pahala atas amal manusia juga “ditransfer” kepada mereka yang telah mengajarkannya.
Begitulah, niat adalah hal yang pokok dengan segenap fungsinya, begitu berarti bagi setiap kita. Niat akan menentukan seseorang beruntung atau celaka, diterima atau ditolak, kecil atau besar. Dan ingatlah bahwa niat yang baik (baca : IKHLAS) tidaklah cukup, melainkan ia mesti disandingkan dengan amalan yang baik pula (baca : ITIBA'URRASUL (mengikuti sunnah nabi)). Hal ini tidak lain agar sebuah amalan tidak “menguap”, karena ia tertolak di sisi Allah Rabbul 'Alamin. Wallahu A’lam. (abumujahid)
Bahan Bacaan : Zero to Hero, Solikhin Abu Izzuddin dan beberapa artikel lainnya.
Posted by
Ummu Najihah
at
8:06 PM
0
comments
Labels: iLmu
Karena Niat Begitu Berarti
Alkisah, tiga orang “besar” yang akhirnya diseret ke neraka karena salah niat. Padahal mereka adalah tokoh – tokoh terkemuka yang sarat dengan prestasi gemilang di tengah kaumnya. Tetapi ada buruk yang tertanam di lubuk hati mereka yang paling dalam.
Mereka dicampakkan ke dalam neraka akibat terbongkarnya niat buruk tersebut di mahkamah keadilan Allah 'Azza Wa Jalla. Siapakah mereka? Sekali lagi, mereka adalah para pembaharu, pembangun dan pejuang bagi kaumnya. Mereka adalah seorang 'alim (berilmu), seorang dermawan (banyak berinfaq) dan yang lainnya adalah seorang mujahid (pejuang di medan perang).
Untuk yang pertama, Allah mendatangkan dan menanyainya : “Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia?. Dia menjawab : “Aku menuntut ilmu di jalanMu, lalu kusebarkan ilmu itu karena mencari keridhaanMu”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Sebenarnya engkau mencari ilmu supaya manusia menyebutmu sebagai seorang 'alim”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.
Untuk yang kedua, Allah mendatangkannya dan menanyainya : Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia? Dia menjawab : “Aku mencari harta yang halal, kemudian aku infaqkan harta itu di jalanMu”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Engkau infaqkan hartamu supaya manusia menyebutmu sebagai seorang dermawan”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.
Dan yang ketiga, dengan nasib yang sama, Allah mendatangkannya dan menanyainya : Apa yang dahulu engkau perbuat di dunia? Dia menjawab : “Aku berperang di jalan Allah, hingga aku mati terbunuh”. Maka dikatakan kepadanya : “Engkau dusta! Engkau berperang supaya manusia menyebutmu sebagai seorang pemberani”. Kemudian diperintahkanlah malaikat penjaga neraka untuk menyeretnya lalu melemparkannya ke dalam neraka.
Demikianlah, kisah di atas yang disebutkan oleh Nabi kita Muhammad Bin Abdullah shallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya kepada kita sebagai sebuah pelajaran sekaligus peringatan bagaimana membangun amal dari sebuah pondasi yang kokoh (baca : IKHLAS) agar memiliki nilai, makna dan arti, kini dan tentunya kelak di akhirat. Allah Ta'ala berfirman, artinya : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5).
Posted by
Ummu Najihah
at
7:38 PM
0
comments
Labels: iLmu
Dirumahku ada seorang Mujahid
Saudariku…
Satu-satunya jalan yang bisa menghantarkan kita kepada kebahagiaan dan ketenangan dunia serta keselamatan dan keberuntungan di akhirat adalah ketaatan kepadaAlloh dan Rasul-Nya. Ketaatan yang menuntut keikhlasan, tidak menjadikan hati menjadi berat, dan penerimaan yang tulus dalam diri kita. Ketaatan yang menuntut pengorbanan harta, keluarga, bahkan jiwa sekalipun dari diri kita.
Oleh karena itu, saudariku..!!
Sungguh indah bila tatanan rumah tangga dihiasi dengan bingkai ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya.
Alangkah bahagiannya bila suamimu adalah orang yang selalu mendermakan hidup, harta dan jiwanya untuk meraih kemuliaan di sisiNya.Keningnya senantiasa tunduk karena sujud.
Lisannya tak pernah lelah karena berdzikir. Keringatnya tak pernah kering dan debu selalu
menyelimuti tubuh dan pakaiannya karena kecintaannya berjuang di jalan Alloh Ta’ala.
Engkau dan anakmu tak pernah memalingkannya untuk meraih kemuliaan di sisiRabbNya
Justeru dia akan menjadikanmu dan anakmu sebagai bahtera yangmenyelamatkan kehidupannya, dan bukan sebagai penghalang dan penghancur kebahagiaannya. Dia akan selalu menanamkan sifat qana’ah dan keperwiraan kepada keluarganya. Dan tidak pernah kecil hati dengan pemberian Rabb-nya.
Saudariku..!!
Alangkah mulianya bila dirimu mendermakan hidup, harta, dan jiwamu untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya. Kemuliaanmu dapat engkau raih dengan ketaatamu kepada suamimu. Selalu menjaga rahasia, harta, dan kehormatannya. Karena tahukah engkau..?? bila surga dan nerakamu terletak pada ketaatanmu kepadanya.
Biarkanlah bibir merahmu yang merekah selalu terseyum simpul dengan segala pemberian suamimu tercinta.
Biarkanlah tanganmu yang lembut dan mulia, tumbuh dan berkembang sosok-sosok perwira.
Malammu selalu dihidupkan untuk berdo’a, memohon,dan merajuk kepada Rabbul ’Izzaty demi kemuliaan diri, anak, dan suami.
Engkau tidak pernah rela bila suamimu tergoda oleh nikmatnya dunia yang fana.
Hatimu tidak pernah tenang bila suamimu lari dari ladang perjuangan.
Engkau pun tidak ingin dirimu menjadi penghalang suamimu tuk meraih kemualiaannya. Oleh karena itu banggalah dengan dirimu dan keadaanmu..!!
karena engkau...karena engkau...adalah isteri seorang MUJAHID..
karena Engkau bukanlah isteri seorang konglomerat.
Saudariku...
Bila suamimu ingin meninggalkan jihad ini dan kerja siang dan malam setengah mati. Mungkin saja rizqinya di sana akan memberikan tambahan uang untukmu. Tetapi engkau akan mendapatkan banyak sekali kerugian di kehidupanmu.
Tahukah kamu saudariQ,,,???
Seorang suami yang jauh dari jihad, jauh dari dakwah, jauh dari dzikir, dan jauh dari Islam, dia akan bermain di luar, berkhianat di luar dan dia tidak pernah bisa mendidik, juga tidak pernah bisa membuat anak-anakmu menjadi orang-orang yang berjiwa mulia.
Saudariku... toh akhirnya engkau akan menua...keriput...dan melayu..mengenang masa lalu yang kelam.
Tapi jangan lupa wahai saudariku..!! jangan lupa, bila dirumahmu ada seorang mujahid. Ooohh...suatu kebanggaan tersendiri, dirumahku ada seorang mujahid. Suatu kegembiraan luarbiasa bagi seorang wanita yang mempunyai suami serang mujahid. boleh jadi dia seorang yang tak punya, boleh jadi dia seorang yang tak perkasa..Namun...itu semua tak mengapa. Karena dia mulia di mata Rabb-nya.
Saudariku..!!
Apalah arti keindahan? Karena keindahan itu di hati dan di perilaku.
Apalah arti dari sebuah kekayaan? Karena kekayaan itu adalah kekayaan hati dan iman. Jangan perna kau sakiti dia..!! siapa tahu dia telah memiliki isteri di surga sana sedang memarahimu dan mengatakan; ”...biarkanlah dia, jangan kau gangu suamiku.”!!.Saudariku...Jangan sampai malaikat mencercamu karena engkau telah menyusahkan sangmujahid di malam hari dan menggerutuinya di siang hari..!! Demi Alloh...hidupmu akan susah dan perjalananmu akan terasa berat bila engkau menyulitkannya..Tidakkah engkau ingin berkumpul bersamanya kelak di jannah...???
oohh...sungguh suatu kebahagiaan tersendiri...
Bila dirumahku ada seorang mujahid..
Posted by
Ummu Najihah
at
12:56 AM
0
comments
Labels: Renungan
DIA
Jangan tunggu DIA tuk pahamimu, tapi selalulah berusaha tuk pahami DIA, fahamkan siapa DIA??
DIA yang sLalu ada di hari-harimu saat ini…
DIA mungkin yang sLaLu ada daLam kemarahanmu saat ini
DIA yang mungkin sLalu ada daLam kesalmu saat ini..
Tapi suatu hari DIA pasti ada daLam kerinduamu, karena kamu tak sadari kalau DIA itu mungkin bukan apa-apa tuk saat ini tapi nanti setelah perpisahan itu hadir…
Untuk DIA
Maafkan aku belum bisa memberikan yang terbaik untukmu selama ini
Maafkan aku sering buatmu menangis dengan sikapku. Dan aku pun tak menyadari sakit hati yang kau rasakan sampai akhirnya aku membaca tulisanmu..
Maafkan aku atas segala kekuranganku dalam bermuamalah yang telah kita bangun selama ini…
Maafkan aku de, maafkan atas segala keegoisanku, sampai detik-detik terakhir kebersamaan kita pun aku tidak ada disisimu,melepas kepergianmu…
Dan sekarang aku sangat merindukanmu, merindukan kebersamaan kita.
Semua menjadi pelajaran bagiku….
Syukran atas kebaikanmu selama ini, yang tak bisa ku sebutkan disini…
Semuanya udah tersimpan rapi di ingatanku dan di hatiku.
Tetaplah bertahan disana, teruskan perjuanganmu.
Perjalanan kita massih jauh, aku harap masih ada “hari” untuk mempertemukan kita lagi. Walaupun aku tidak tau kapan “hari itu”?
seperti katamu, banyak hal yang tak ku tau di akhir pertemuan kita, tapi yang harus kau tau أحبك في الله
Posted by
Ummu Najihah
at
6:09 AM
0
comments
Labels: Inspirasi Mujha
NajihaQ
Jika Q tak mengenaLmu,
Mungkin Q tak mengerti betapa Indahnya Ukhuwah itu,,
Betapa anehnya sebuah Rasa Rindu...
Betapa Uniknya Rasa kasih sayang...
Betapa pentinganya sebuah pengorbanan...
Betapa bahagia sebuah peRjumpaan...
Betapa berharganya sebuah senyuman...
Betapa bermaknanya sepatah kata dan mungkin juga
Betapa sakit saat kehiLagan ade sepeRtimu...
Mungkin kau tak perna tau..
Betapa banyak kebahagiaan yang Q raih saat bRjumpa denganmu
Mungkin Q meLakukan kesaLahan teRbesar saat masa-masa terakhir Qta
bRharap aQ bisa disisimu meNgantar kepergianmu...
Tp karena EgoQ yang tinggi, Q mengorbankan orang terpenting daLam HidupQw...
De, waLaupun sekarang aQ tak disisimu, tak bisa meNgantar kepergianmu,
Tp Q berharap, semua gunung dan alam disini meNjadi saksi atas kesedihanQ akan peRpisahan Qta De...
untuk adeQ yang Q sayang (Najihah)
De
Posted by
Ummu Najihah
at
12:12 AM
0
comments
Labels: Inspirasi Mujha
ADAB BERTEMAN
• Salam dan Berjabat Tangan
Hendaklah mengucapkan salam jika bertemu dengan sesama muslim sebelum berbicara dengannya lalu di lanjutkan dengan berjabat tangan. Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda,”Tidaklah dua orang muslim kemudian keduanya berjabat tangan , melainkan keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah.”(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)
• Saling Menasehat
Teman yang baik adalah teman yang dapat memberikan nasehat kepada saudaranya disaat dia melakukan kesalahan. Ia tak akan tega membiarkan saudaranya terjerembab ke lubang kememaksiatan lebih lama. Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda,” Jika salah seorang meminta nasehat kepada saudaranya, hendaklah saudaranya tersebut memberikannya nasehat. (HR.Bukhari)
• Tidak Mendiamkan Lebih dari Tiga Hari
Marah terhadap sesame muslim adalah hal yang wajar. Namun menjadi dilarang apabila terjadi lebih dari tiga hari. Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam perna bersabda, “Seorang muslim tidak halal mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, salah satunya berpaling dan orang satunya juga berpaling. Orang terbaik diantara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam .” (Muttaafaqun ‘alaih)
• Saling Membantu
Membantu saudara tidak hanya sebatas bantuan moril saja namun juga bantuan materi. Diriwayatkan Abu Hurairah Radhialallahu‘anhu bahwa ia didatangi seorang lalu berkata,”Aku ingin bersaudara denganmu karena Allah, tahukah engkau apa hak persaudaraan?”Abu Hurairah berkata,”Tolong jelaskan hak persaudaraan kepadaku.” Orang itu menjawab,”Engkau tidak merasa lebih berhak atas dinarmu dan dirahmmu dari pada aku.”Abu Hurairah berkata”Aku belum bisa sampai tingkatan itu.” Orang tersebut berujar,”Kalau begitu pergilah engkau dari sini.”
• Memaafkan Kesalahannya
Saat teman kita berbuat salah, jangan terburu untuk meninggalkannya sebelum menasehatinya. Bila tak menggubris, barulah ditinggalkan dengan baik seraya berharap agar segera bertaubat dari kesalahan. Abi Darda Radhialallahu‘anhu berkata, Jika saudaramu berubah, maka engkau jangan meninggalkannya karena hal tersebut, karena saudaramuitu terkadang menyimpang, namunpada kesempatan lain ia berada di atas jalan yang lurus.
Posted by
Ummu Najihah
at
7:41 PM
0
comments
Labels: AkhLak
Risalah Kasih Sahabat
Engkau Layak DiSandarkan Indah Walau Hanya Pada Dinding Yang Diam Beku
Karena Engkau Adalah Permata Meski Mata Manusia Tak Dapat Memandangmu
Engkau Lembut Karena Budi Pekerti
Engkau Bersahaja Meski Dalam Lingkup Yang Membatasi
Akan tetapi, Engkau Tak Pernah Mau
Bila Duri Menusuk Sukma Dan Hati
Engkau Ingin Menjadi Bunga
Tapi, Tak Kau Ingin Kumbang Memandang Binal
Engkau Lalu Berganti Wajah
Meski Engkau Tetap Menjadi Bunga,
Namun Kini Engkau Punya Duri Sendiri
Bersimpuh Pada-Nya Tuk Turut Mengaminkan Agar Duri Yang Engkau Miliki Tak Balik Menyakti
Namun Menjadi Pengganti
Penjagaan Diri Ini Tuk Sahabat Terkasih
Saudari,...
Maaf,,
Hanya Sebatas Ini Yang Bisa Kuberi
Karena kian Detik, Warna Raga Terus Berganti
Semoga Bahagia Tetap Menata Hati
Meski Raga Ini Tak Lagi Menemani
Cat: U/ Saudariku Yang KuIngin Tetap Istiqamah
Posted by
Ummu Najihah
at
2:17 AM
0
comments
Labels: Puisi
Back to Home...
Alhamdulillah wa syukurillah, setelah 11 bulan merantau, akhirnya bisa kembali ke kota Tarakan tercinta,,,
Tidak terasa banyak perubahan yang terjadi pada tarakan begitu juga saya. dan semoga perubahan itu memngarah yang lebih baik dati pada sebelumnya.
Tepatnya tanggal 4 Agustus saya kembali melangkahkan kaki di kota ini dengan perjalanan yang cukup panjang, banyak sekali kejadian-kejadian yang saya alami selama perjalanan n pikiranku hanya tertuju pada keluarga tercinta,,,
Ada kesedihan yang terlintas ketika saya meninggalkan Makassar, meninggalkan sahabat, serta tempat yang bermakna bagi saya, dimana di sudut kota itulah saya banyak mengambil ibrah dari setiap kejadian yang saya alami, meninggalkan para motivator-motivator yang salama ini memberikan saya semnagat dan membuka pikiran saya dalam setiap masalah. Para asatidza yang tak bosan-bosannya menesehati kami yang terkadang lalai.
dan yang lebih bermakna disitulah saya menntut 'ilm syar'i, memperluas pengetahuan, serta mendewasakan kami. Dan aku berharap Allah masih memberikan aku kesempatan dan memudahkan langkahku untuk kesana.
Dan sekarang aku kembali ke kampung halaman, dengan berbagai amanah yang diberikan. semoga Allah menguatkan kami dalam mengerjakan amanah yang tlah di berikan kepada kami.Semoga k'IstiQomaan yang tLah kami jaga tetap kekal sampai hembusah nafas terakhir...
Ya Allah, Ridhoi langkahku...
Posted by
Ummu Najihah
at
12:36 AM
0
comments
Labels: Inspirasi Mujha
Vacum, dg waktu yaNg paNjang...
Afwan untuk sementara,mujha vacum dg waktu yang panjang....
Posted by
Ummu Najihah
at
7:13 PM
0
comments
Labels: Inspirasi Mujha
Faedah di baLik Kesabaran
Sabar, memang berat. Namun di baLik beratnya kesabaran
tersimpan rahasia keutamaam yang menakjubkan.
“Innallaha ma’ashshobiriin”
Kesabaran memang terasa berat dan memang berat, namun ingat di baLik kesabaran tersebut seorang akan mendapatkan banyak faedah, baik bersifat duniawi ataupun ukhrowi. ALLah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan beragam faedah tersebut agar manusia berusaha istiqomah daLam kesabaran. Apa saja faedah kesabaran?
FAEDAH SABAR DIDUNIA
Mungkin ada yang bertanya: Apakah sabar memiLiki faedah di dunia? Jawabannya sudah jeLas pasti ada. Nah, diantara faedah dan manfaat didunia adaLah :
1. ALLah Subhanahu Wa Ta’ala jadikan sebagai orang yang berhak mendapatkan kepemimpinan daLam agama dengan sebab kesabaran, sebagaimana dijeLaskan daLam firman ALLah Subhanahu Wa Ta’ala :
“Dan Kami jadikan di anatara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adaLah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.32 : 24)
SyeikhuL IsLam Ibnu Taimiyah menyatakan : dengan sabar yakin diperoLeh kepemimpinan daLam agama.
2. Mendapatkan kebersamaan ALLah Subhanahu Wa Ta’ala yang khusus (Ma’iyatuLLahi AL Khoshos) sebagaimana dijanjikan ALLah Subhanahu Wa Ta’ala daLam firmanNya:
”Hai orang-orang yang beriman jadikanLah sabar dan shaLat sebagai penoLongmu, sesungguhnya ALLah beserta orang-orang yang sabar.” (AL Baqarah : 153)
Pengertian Ma’iyatuLLah AL Khoshoh adaLah ALLah Subhanahu Wa Ta’ala menoLong, menguatkan dan mengokohkannya.
3. ALLah Subhanahu Wa Ta’ala menoLong mereka atas musuh-musuhnya apabiLa mereka bersabar dan bertaqwa. HaL ini Langsung dijeLaskan ALLah Subhanahu Wa Ta’ala daLam firmanNya:
”Jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya ALLah menoLong kamu dengan Lima ribu maLaikat yang memakai tanda.” (ALi Imaran: 125) dan firmanNya:
”Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamau. Sesungguhnya ALLah mengetahui segaLa apa yang mereka kerjakan.” (QS.3 : 120)
4. MemperoLeh shoLawat, rahmat dan petunjuk ALLah Subhanahu Wa Ta’ala seperti dijanjikan daLam firman ALLah Subhanahu Wa Ta’ala :
”Dan bertaqwaLah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabiLa ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa LiLLahi wa inna iLaihi Raaji’uun”. Mereka ituLah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbynya, dan mereka ituLah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (AL-Baqarah :155-157)
5. Sabar atas musibah yang menimpa kita termasuk perkaran yang sangat diutamakan dengan daLiL firman ALLah Subhanahu Wa Ta’ala:
”Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk haL-haL yang diutamakan.” (QS. 42:43)
Juga firmanNya tentang wasiat Luqman terhadap anaknya:
”Hai anakku, dirikanLah shaLat dan suruhLah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahLah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarLah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk haL-haL yang diwajibkan (oLeh ALLah)”. (QS. 31:17)
6. Mendapatkan kecintaan ALLah Subhanahu Wa Ta’ala karena ALLah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai orang yang sabar seperti daLam firman-Nya:
”ALLah menyukai orang-orang yang sabar.” (ALi Imran:146)
7. Orang yang sabarLah yang dapat mengambiL manfaat dan peLajaran atas ayat-ayat ALLah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana dinyatakan ALLah Subhanahu Wa Ta’ala daLam empat ayat daLam AL Quran, yaitu
a. Firman-Nya:
“dan sesungguhnya Kami teLah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya): “keLuarkanLah kaummu dari geLap guLita kepada cahaya terang benderang dan ingatLah mereka kepada hari-hari ALLah”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan ALLah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS. 14:5)
b. Firman-Nya:
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapaL itu berLayar di Laut dengan nikmat ALLah Subhanahu Wa Ta’ala, supaya diperLihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar Lagi banyak bersyukur.” (QS. 31: 31)
c. Firman-Nya
“Maka mereka berkata: Ya Rabb kami jauhkanLah jarak perjaLanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah muLut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda –tanda kekuasaan ALLah bagi setiap orang yang sabar Lagi bersyukur” (QS. 34:19)
d. “Firman-Nya:
“Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadiLah kapaL-kapaL itu terhenti dipermukaan Laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS. 42:33)
Ayat-ayat diatas seLuruhnya menunjukkan ayat-ayat ALLah Subhanahu Wa Ta’ala hanya dapat diambiL peLajaran dan faedahnya oLeh orang-orang yang sabar dan bersyukur.
8. Sabar itu menjadi sebab kebaikan di dunia dan akherat. IniLah yang dijanjikan ALLah Subhanahu Wa Ta’ala daLam firman-Nya:
“Dan jika kamu memberikan baLasan, maka baLasLah dengan baLasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya ituLah yang Lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”(QS. 16:126)
Demikian juga RasuLuLLah Sallallahu Alaihi Wassallam menyatakan:
“Siapa yang bersabar maka ALLah akan menjadikannya sabar dan tidakLah ada satu pemberian kepada seorangpun yang Lebih baik dan Lebih Luas dari kesabaran. (Mutafaqun A’Laihi)
Sumber : MajaLah eLfata
Posted by
Ummu Najihah
at
11:01 PM
0
comments
Labels: iLmu
Jam ^_^

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.
“Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?”
“Ha?”, kata jam terperanjat,
“Mana saya sanggup?”
“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?”
”Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan..
”Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”
”Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Itu banyak sekali?”tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.
”Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”
”Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias..
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata “tidak” sebelum Anda pernah mencobanya..
Posted by
Ummu Najihah
at
4:01 AM
1 comments
Labels: Renungan
TaNgisan...
Beberapa jenis tangisan
Menurut Ibnul Qayyim ada beberapa jenis tangisan antaranya ialah:
Menangis kerana kasih sayang dan kelembutan hati.
Menangis kerana rasa takut.
Menangis kerana cinta.
Menangis kerana gembira.
Menangis kerana menghadapi penderitaan.
Menangis kerana terlalu sedih.
Menangis kerana terasa hina dan lemah.
Menangis untuk mendapat belas kasihan orang.
Menangis kerana mengikut-ikut orang menangis.
Menangis orang munafik - pura-pura menangis.
Ada jenis tangisan nampak biasa saja tetapi air mata yang mengalir itu dapat memadamkan api neraka.
Ini dikisahkan oleh Nabi dalam satu hadis, Rasulullah Sallallah Alaihi Wassallam bersabda, maksudnya: “Tidaklah mata seseorang menitiskan air mata kecuali Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka.
Dan apabila air matanya mengalir ke pipi maka wajahnya tidak akan dikotori oleh debu kehinaan, apabila salah satu orang dari suatu kaum menangis, maka kaum itu akan dirahmati. Tidaklah ada sesuatu pun yang tak mempunyai kadar dan balasan kecuali air mata. Sesungguhnya air mata dapat memadamkan lautan api neraka.”
Tangisan yang dimaksudkan ialah tangisan kerana takut kepada Allah. Menangis kerana menyesal atas kesalahan dan dosa, malah tangisan takut kepada azab Allah sangat bernilai di sisi-Nya sehingga air mata itu dapat memadamkan api neraka.
Posted by
Ummu Najihah
at
4:25 AM
0
comments
Labels: iLmu
Melatih kesabaran
Melatih kesabaran Kita Menghadapi Berbagai Situasi, Kondisi Dan Toleransi
Bisa bersabar ketika sedang menunggu teman yang sudah membuat janji dengan kita tetapi teman yang kita tunggu tidak datang-datang?
Nah, untuk menumbuhkan kesabaran yang kita miliki ada beberapa kiat, antara lain :
1. Berpikir positif terhadap hal-hal yang menimpa kita. anggaplah itu adalah ujian bagi kiat dan kita akan lulus ujian.
2. Perbanyak membaca ilmu pengetahuian. Hal ini dilakukan aagr kita bisa memahami lebih banyak tentang kekurangan yang kita miliki, sehingga kita akan semakin merasa betapa banyaknya ilmu pengatahuan yang belum kita miliki.
3. Berkumpullah dengan orang-orang yang banyak ilmunya.
4. Berlatih memasukkan benang ke lubang jarum, dan yang dipilih adalah jarum yang ukuran paling kecil.
5. maafkan selalu kekurangan orang lain yang mungkin membuat Anda marah. yakinkan diri bahwa setiap manusia pasti memilki kekurangan masing-masing.
selamat mencoba.
Artikel ini saya dapatkan dari salah satu saudara ana…
Posted by
Ummu Najihah
at
4:15 AM
0
comments
Labels: AkhLak
AL-GHADHAB (MARAH)
Hakikat marah menurut Islam ialah marah yang terpuji dan marah yang tercela. Kemarahan yang ditujukan untuk mempertahankan diri, agama, kehormatan, harta kekayaan atau untuk menolong orang yang dizalimi adalah terpuji. Sesungguhnya Allah Subhanu Wa Ta’ala menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di bumi. Allah Subhanu Wa Ta’ala berfirman,
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.' ... " (QS al-Baqarah: 30)
***
Agar manusia dapat bangkit untuk melaksanakan tugas tersebut, maka Allah Subhanu Wa Ta’ala menciptakan manusia terdiri atas ruh, akal dan tubuh. Hikmah Allah Subhanu Wa Ta’ala menetapkan bahwa badan menjadi pelayan ruh. Agar badan berada dalam karakter yang membuatnya layak untuk melayani ruh selama manusia berada di muka bumi, maka Allah menciptakan dua kekuatan di dalam badan. Pertama, kekuatan syahwatiah yang tugasnya ialah menarik segala yang berguna bagi tubuh dan yang memberinya santapan. Kedua, kekuatan marah yang tugasnya ialah menolak segala sesuatu yang dapat memudaratkan badan dan membinasakannya.
***
Allah Subhanu Wa Ta’ala menciptakan anggota tubuh manusia ditujukan untuk melayani kekuatan syahwat dan kekuatan marah. Allah Subhanu Wa Ta’ala juga menciptakan akal yang dimaksudkan supaya berperan sebagai pemberi petunjuk dan nasihat kepada ruh bilamana kekuatan syahwat atau kekuatan marah cenderung kepada sesuatu hingga melampaui batas kesederhanaan. Pada saat itulah akal memberi nasihat atau petunjuk kepada ruh ihwal pentingnya mengambil sikap tegas terhadap kekuatan yang ekstrem agar manusia kembali kepada keseimbangan dan kesempurnaannya. Allah Subhanu Wa Ta’ala mengetahui bahwa kadang-kadang akal mengalami kesulitan saat memberikan nasihat dan petunjuk kepada ruh karena suatu sebab atau karena hal lain. Karena itu, Dia menurunkan sebuah manhaj kepada ruh yang tergambar dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Manhaj ini akan menyinari jalan, menunjukkan kepada kebenaran dan memelihara keseimbangan dan kesempurnaan di antara unsur-unsur pembentuk manusia agar kepribadiannya tetap stabil, lurus, tidak bengkok dan tidak cacat. Dengan demikian, marah diciptakan dalam diri manusia agar dia dapat mempertahankan diri dan memelihara kehormatannya.
***
Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla memuji sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam, bahwasanya mereka bersikap keras terhadap kaum kafir. Allah Subhanu Wa Ta’ala swt berfirman,
"Muhammad itu adalah utusan Allah Subhanu Wa Ta’ala dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir ... " (QS al-Fath: 29)
Sikap keras terhadap kaum kafir tidak muncul kecuali dari rasa marah dan perlindungan diri. Mereka tidak marah terhadap apa yang diberitahukan oleh Allah Subhanu Wa Ta’ala tentang mereka kecuali marah karena Allah Subhanu Wa Ta’ala . Allah Subhanu Wa Ta’ala swt berfirman,
"(Juga) bagi orang kafir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah Subhanu Wa Ta’ala dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah Subhanu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS al-Hasyr: 8-9)
Rasulullah Sallallah Alaihi Wassallam bersabda,
"Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang kuat ialah yang dapat mengontrol dirinya ketika marah." (HR Bukhari dan Muslim)
Posted by
Ummu Najihah
at
9:49 PM
0
comments
Labels: AkhLak
Bila hati teLah terluka
Tiba-tiba kaca jendela depan rumah itu pecah berkeping-keping. Penyebabnya hanya satu, karena dilempar batu oleh orang yang dengan tangannya tanpa ada perasaan dan akal yang bijaksana dan jernih melayangkan jari jemarinya ke jendela kaca itu.
Seseorang, baik berjenis kelamin lelaki ataupun berjenis kelamin perempuan, dengan tanpa perasaanpun bisa melakukan hal yang sama pada insan disekitarnya, apakah itu musuhnya, temannya, bahkan saudaranya sekalipun.
Hati, kalau sudah pecah, luluh lentak, sulit untuk disatukan kembali sebagaimana sediakala, seperti layaknya kaca jendela tadi. Lain hal, kalau memang kaca itu kaca tebal, keras kepala, tidak memiliki elemen yang halus sebagaimana kaca kristal, yang memiliki kehalusan baik bentuk, warna dan kandungannya, tidak semudah itu menyatukannya kembali sebagaimana semula.
Ribuan kata maaf yang terlontar dari sipelempar kaca tadipun, belum tentu bisa hilang bekas luka, walau dengan sejuta cara.
Oleh sebab itulah wahai insan yang memiliki akal dan perasaan yang dalam. Kita bukan hewan, yang dengan mudahnya mencakar siapa saja dengan kekuatan yang ada pada kita. Kekuatan jabatan, pangkat, kekayaan, bahkan kekuatan kecantikan, ketampanan, dan kelebihan daya tarik dan cinta sekalipun. Hewan buas sekalipun, masih mikir-mikir memangsa, apalagi kita manusia.
Manusia memang tidak akan pernah luput dari kekurangan dan kesalahan. Namun, apakah kekurangan kita ini, akan kita pergunakan tanpa pertimbangan akal yang telah diberikan oleh Allah Ta'ala untuk menyakiti sesama kita?
Takutlah akan kedzaliman dan mendzalimi orang lain, karena salah satu do'a yang tak ada batas (yang terkabul) oleh Allah Ta'ala adalah, "Do'a orang yang di dzalimi".
Jangan dikira Allah tidur. Allah tak pernah tidur. Jangan dikira do'a orang yang kita dzalimi diabaikan Allah Ta'ala, Tidak,..!! Allah Tak pernah tidur, kita harus yakini itu. Tunggu saja tanggal mainnya. Bila Allah Ta'ala sudah katakan :" "Kun"= jadilah ia, maka "fayakun"=terjadilah ia".
Oleh karena itu, mari kita memulai dari hal yang kelihatan sepele, jauhi dari berbuat dzalim pada siapapun. Dzalim bukan hanya dengan gencatan senjata, sikap kasar, kata-kata kasar, dzalim bisa saja berlaku pada segala sikap dan perkataan yang merendahkan, menghina, korupsi, dan segala lini-lika-luka, liku kehidupan.Karena hati bila terluka, sukar kembali seperti semula.
Posted by
Ummu Najihah
at
8:08 PM
0
comments
Labels: Renungan
Bila Aku Jatuh Cinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Aamiin !
Read More......
Posted by
Ummu Najihah
at
3:09 AM
2
comments
Labels: Puisi
Puisi dari adinda... :)
AssaLamuaLaykum WarahmatuLLah...
aLhamduLLah, seLama cukup Lama mujha vakum, akhirnya bisa mempostiNg Lagi... :)
untuk kaLi ini mujha akan memposting saLah satu puisi dari peserta Daurah V, yang diLaksanakan pada tanggaL 07 maret s/d 09 maret di saLah satu kediaman rumah ummahat di mambuRungan...
d'antara puisi2 dari peserta, ada beberapa puisi yang masya Allah sekali...
Subhanallah, peserta seusia dy bisa membuat puisi yang bermakna sekali,
Insya Allah puisi itu dijadikan rujukan bagi kami untuk bisa menjadi wanita sholeha yang bermakna. semoga apa yang dia tuLiskan menjadi doa bagi kami.aamiin
puisi tersebut berjuduL "wanita sholeha"
siapakah mereka yang memakai jilbab?
Siapakah mereka yang ikhLas berbagi iLmu kepada orang2 yang membutuhkan mereka
dan siapakah mereka yang barhati suci
mereka itu adalah pejuang2 wanita
mereka itu ialah para wanita sholeha
karena mereka ingin mencapai syurga Allah Subhanallahu wata'aLa
k'ikhLasan dan kesucian hati mereka
bagaikan mutiara yang sangat diimpikan setiap insan
namun sangat suLit untuk memiLiki itu semua
tetapi dengan iman dan taqwa
merekapun mendapatkan itu semua
aku bangga kepada mereka
dan aku ingin seperti mereka
waLaupun aku tau untuk menjadi seperti mereka
itu sangat suLit,
namun aku yakin, seyakin-yakinnya
dengan bekal iman dan taqwa
Q bisa seperti mereka
(untuk semua kakak panitia :))
karya salah satu peserta Daurah V
Posted by
Ummu Najihah
at
6:50 AM
0
comments
Labels: Puisi
KeLender...^^
My Facebook,,, ^^
Mujha's Friends_^
-
Penantian Berakhir (1)8 months ago
-
Pantun cinta yang begitu romantis12 years ago
-
Tentang Ayahmu dan Ayahku14 years ago
-
Sang Penghafal Qur'an14 years ago
-
Sirah..14 years ago
-
Kontak Person15 years ago
-
Hijrah Ku,......15 years ago
-
-
Kaki pincang yang menghantarkan ke syurga15 years ago
